cookieOptions = {...}; Tugas | My veterinary day
Blogger Tips and TricksLatest Tips For BloggersBlogger Tricks
Tampilkan postingan dengan label Tugas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tugas. Tampilkan semua postingan

23 Oktober 2014

04 Juli 2014

Type IV Vagal Indigestion

Ringkasan “Clinico Hemato BiochemicalFindings, Clinical Management, and Production Performance of Bovines with LatePregnancy Indigestion (Type IV Vagal Indigestion)” oleh Syed Ashaq Hussain, Sanjeev Kumar Uppal, Naresh Kumar Sood, dan Shashi Kant Mahajan yang melakukan penelitian terhadap 15 hewan (8 kerbau dan 7 ekor sapi), didiagnosis dengan late pregnancy indigestion (LPI). Sepuluh kerbau dan 10 ekor sapi dijadikan kelompok kontrol.
Hewan-hewan mengalami kemajuan waktu kehamilan mengalami anoreksia, asupan air berkurang, dan dehidrasi ringan sampai sedang. Sirkulasi darah dan respirasi meningkat dan motilitas rumen berkurang. Lima hewan memiliki timpani persisten dan distensi moderat kiri perut, dan dua hewan masing-masing memiliki distensi abdomen bilateral dan papple berbentuk perut.
Neutrofil dan limfosit jumlah secara signifikan lebih tinggi dan lebih rendah dari nilai kontrol. Jumlah bilirubin, AST, total protein, globulin, BUN, glukosa, dan laktat secara signifikan lebih tinggi, dan klorida dan kalsium secara signifikan lebih rendah dari nilai kontrol. Tingkat ALP, GGT, albumin, kreatinin, kolesterol, trigliserida, fibrinogen, rasio fibrinogen, natrium, kalium, fosfor, dan magnesium tidak berbeda secara signifikan dari nilai kontrol. Konsentrasi klorida Rumen lebih tinggi dari kisaran referensi.
Mayoritas hewan ditangani gejalanya timbul sampai kelahiran. Tidak ada efek pada janin hidup atau susu hasil pada saat ini ataupun laktasi. Perbaikan dari tanda-tanda klinis setelah partus (alam atau diinduksi) dianggap sebagai definitif diagnostik untuk LPI. LPI menyebabkan perubahan signifikan hematobiochemical sehingga membutuhkan perhatian yang lebih besar dalam pengobatan hewan yang terjangkit.

Perubahan hematobiochemical dapat dijadikan pertimbangan sementara dalam penanganan LPI pada sapi. Tidak ada efek pada kelangsungan hidup janin dalam kasus-kasus yang dikelola secara medis. Prognosis penyakit ini fausta hingga infausta. LPI menyebabkan perubahan biokimia klinis dan hemato yang memerlukan pertimbangan khusus ketika perawatan.


E.Coli sebagai agen bakterial food borne desease

Tugas Kesehatan Masyarakat Veteriner II
ESCHERCHIA COLI SEBAGAI AGEN BAKTERIAL FOOD BORNE DESEASE




IRMA ROZALINA
1109005041
Kelas A 

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR- BALI
2014
______________________________________________
______________________________________________


PENDAHULUAN

Bakteri E.Coli ditularkan melalui makanan/ minuman yang tercemar kuman (foodborne disease). Penularan melalui makanan seperti buah-buahan, sayuran yang dimakan segar (tanpa dimasak), susu yang diminum tanpa proses pengolahan, tangan yang tidak bersih kemudian mencemari makanan/ minuman.
E. coli O157: H7 yang paling sering ditemukan pada sapi, ayam, rusa, domba, dan babi. Daging dapat terkontaminasi selama pembantaian, ketika usus hewan yang terinfeksi atau kotoran bersentuhan dengan bangkai. Makanan lain yang terkadang terkontaminasi dengan E. coli termasuk susu yang tidak dipasteurisasi dan keju, jus, lobak, selada, bayam, dan air. Penyebab lainnya adalah kontak dengan kotoran hewan yang terinfeksi serta kontaminasi silang.
Bakteri E.Coli hidup optimal pada suhu 70C - 500C, dapat hidup pada suasana asam (pH 4,4), masa inkubasi 2 - 8 hari (rata-rata 4 hari), mampu memproduksi toksin yaitu Verotoksin (VT) 1 dan 2, tetapi akan mati pada pemanasan suhu 700C selama 2 menit. E. coli O157 H:7 selain dapat menyebabkan gangguan saluran pencernaan berupa diare atau sering juga disebut sebagai traveler’s diare juga dapat menyebabkan terjadinya hemolytic uremic syndrome, gagal ginjal bahkan kematian.

 ______________________________________________

MASALAH

Masalah yang diangkat pada tugas mandiri ini adalah:
1.      Jenis Escherchia coli apa yang menjadi food borne desease?
2.      Penyakit apa yang ditimbulkannya?
3.      Bagaimana pencegahannya?
Gambar 1. topografi koloni E. coli O157: H7 strain (A) 43895OW (curli non-produksi) dan (B) 43895OR (curli memproduksi) tumbuh pada agar selama 48 jam pada suhu 28 ° C. 
source: wikipedia.com
 ______________________________________________

PEMBAHASAN

A.   Bakteri Escherchia coli
Escherichia coli, atau biasa disingkat E. coli, adalah salah satu jenis spesies utama bakteri gram negatif yang pertama kali ditemukan oleh Theodor Escherich dalam usus besar manusia. Kebanyakan E. Coli tidak berbahaya kecuali E. Coli O157:H7
Gambar 2. Di bawah perbesaran 6836x berwarna scanning mikrograf elektron (SEM) digambarkan sejumlah bakteri Escherichia coli Gram-negatif dari O157 regangan: H7. Courtesy of CDC / National Escherichia, Shigella, Vibrio Reference Unit di CDC.
source: http://www.extension.org/

Escherichia coli O157:H7 merupakan jenis E. coli yang patogen terhadap manusia dan banyak menyebarkan penyakit pada manusia. E. coli galur ini pertama kali diisolasi tahun 1982 di Oregon dan Michigan karena beberapa orang setelah makan hamburger mengalami diare setelahnya.
Dalam metabolismenya E.coli O157:H7 dapat menggunakan rafinosa dan dulcitol sedangkan hanya sedikit dari E.coli lain yang dapat menggunakan rafinosa dan dulcitol. Selain itu, E.coli 0157:H7 juga memiliki ciri-ciri kondisi lingkungan yang berbeda dengan E.coli lainnya, dimana ia dapat bertahan hidup pada kondisi suhu yang rendah dan dalam kondisi asam. Hal ini tidak terjadi pada E.coli lain yang tidak dapat bertahan hidup pada kondisi suhu rendah dan dalam kondisi pH asam.
                            
B.    Penyakit yang ditimbulkan Escherchia coli
Escherchia coli dapat mengakibatkan keracunan makanan yang serius pada manusia yaitu diare berdarah karena eksotoksin yang dihasilkan bernama verotoksin. Toksin ini bekerja dengan cara menghilangkan satu basa adenin dari unit 28S rRNA, sehingga menghentikan sintesis protein. Sumber bakteri ini contohnya adalah daging yang belum masak, seperti daging hamburger yang belum matang.

Gambar 3. Model transmisi E. coli O157: H7 dari ternak ke manusia. 
source: http://www.pnas.org/

Angka transmisi E. coli O157: H7 dari ternak ke manusia menurut data dari berbagai studi melaporkan kontaminasi pada tanaman dan sumber air dikaitkan dengan penggunaan pupuk pupuk atau dari kontaminasi kotoran dari ternak di dekatnya. Sumber-sumber infeksi pada manusia dengan E. coli O157: H7 yang diidentifikasi terlebih dahulu dengan metode epidemiologi. Dalam beberapa kasus, E. coli O157: H7 diisolasi dari makanan yang dicurigai atau sumber lain; dalam banyak kasus, termasuk wabah yang berhubungan dengan tanah daging, PFGE atau fag mengetik memberikan konfirmasi tambahan bahwa bakteri yang diisolasi dari pasien dan dicurigai makanan atau sumber lain adalah strain yang sama. PFGE mengetik juga telah berguna dalam menghubungkan wabah terpisah secara geografis untuk sumber yang sama daging yang terkontaminasi. Temuan E. coli O157: H7 pada burung, rusa, dan hewan lainnya telah menimbulkan spekulasi bahwa organisme ini mungkin juga kendaraan untuk O157: H7 transmisi.
Bakteri ini juga memiliki adhesin yang dikenal dengan intimin untuk pelekatan pada sel epitelial yang disandikan oleh gen eae. Ditambah dengan antigen flagella yaitu H yang memiliki struktur yang panjang yang memiliki spesifitas serologi yang ditentukan dari epitopnya. Dan terakhir antigen somatik yaitu antigen O.
E. coli O157:H7 ini memiliki toksin yang disebut dengan shiga (vero) toksin. Toksin yang dihasilkan E. coli galur ini adalah toksin yang mirip dengan Shigella dysenteriae. Shiga-like toxin E. coli (STEC) adalah patogen yang berada dalam pencernaan dan manusia yang terserang serotipe STEC ini, disebut juga dengan terserang enterohemorrhagic E. coli (EHEC). Vaktor virulensinya ada shiga toxin 1 dan shiga toxin 2.[8] Toksin shiga yang mirip dengan Shigella adalah shiga toxin 1.
Penyakit yang biasa ditimbulkan oleh E. coli O157:H7 pada manusia adalah hemorrhagic colitis (HC), hemolytic uremic syndrome (HUS), dan thrombotic thrombocytopenic purpura. Haemorrhagic colitis memiliki gejala diare berdarah, kram perut, gagal ginjal, dan menyebabkan kematian mikroflora dalam usus. Jika terserang E. coli ini, kemungkinan terkena penyakit haemorrhagic colitis adalah 38-61% dengan masa penyembuhannya antara 5-10 hari.
Bila haemorrhagic colitis dibiarkan, penyakit ini dapat berakibat fatal karena adanya komplikasi yang disebabkan oleh haemolytic uraemic syndrome yang dapat menyebabkan kerusakan sel darah merah, dan gagal ginjal, serta diare dengan feses yang mengeluarkan darah (pendarahan yang dapat berakibat fatal, bahkan menyebabkan kematian, khususnya pada anak-anak).
Sedangkan, Thrombotic thrombocytopenic purpura dapat menyebabkan thrombocytopenia, anemia, demam, kerusakan pencernaan, dan kerusakan saraf. Penyakit-penyakit ini umumnya disebakan oleh konsumsi daging maupun sayuran yang tidak masak. Daging maupun sayuran yang tidak masak ini merupakan habitat dari E. coli patogen ini.

Gambar. 4. Proses pathobiologic dari E. coli O157:. H7. 
source: http://images.google.com/

Proses kompleks E. coli O157: H7 menempel pada mukosa usus dimulai dengan lampiran fimbrial bakteri diikuti oleh translokasi protein Tir bakteri ke dalam membran sel inang. Tir berfungsi sebagai reseptor untuk bakteri intimin protein lampiran membran luar. Satu atau lebih jenis racun Shiga yang dilepaskan yang kemudian berikatan dengan reseptor seluler mereka, glikolipid netral Gb3 dan GB4. Internalisasi dan aktivasi sel blok racun ini ribosomal peptide perpanjangan maka mengganggu sintesis protein menyebabkan kematian sel. Kerusakan usus memungkinkan Shiga racun dan faktor bakteri lainnya untuk mendapatkan pintu masuk ke sirkulasi. Ini dapat mencapai jaringan inang multiple termasuk ginjal di mana kerusakan hasil microvasculature pada sindrom uremik hemolitik berpotensi mematikan. Pengobatan penyakit ini sebagian besar masih mendukung tanpa antibakteri yang diterima secara luas atau racun bertarget rejimen. Agen antibakteri diyakini mengakibatkan lisis bakteri dan pelepasan racun yang tersimpan. Salah satu metode pengobatan yang potensial dapat bergantung pada penghambatan ekspresi toksin sebelum pemberian agen bakterisida

C.   Pencegahan Penularan Penyakit
Setiap makanan memiliki potensi dapat terkontaminasi oleh E. coli. Inilah sebabnya mengapa penting untuk mengambil tindakan pencegahan dalam menyiapkan makanan dan sebelum makan di restoran. Karena bakteri E. coli dapat bertahan hidup selama beberapa minggu pada permukaan, sehingga menjaga kebersihan sangat penting. Langkah sederhana lain yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko E. Infeksi coli meliputi:
a.Higiene personal
· Cuci tangan dengan bersih sebelum dan sesudah makan dan setelah pergi ke kamar mandi
· Cuci tangan dengan bersih setelah kontak dengan hewan ternak
· Kenakan sarung tangan sekali pakai ketika mengganti popok anak-anak yang mengalami diare
b.Menghindari kontaminasi pada makanan
· Membersihkan semua buah-buahan dan sayuran sebelum dimakan
· Hindari menempatkan daging mentah satu tempat dengan makanan lain saat memasak
c.Masak daging dengan sempurna, masaklah dulu makanan sebelum dimakan sekitar 70-100oC
d.Jangan makan makanan mentah
e. Hindari minum air non-clorinasi, susu yang tidak dipasteurisasi
 ______________________________________________

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan
Escherichia coli O157 H:7 adalah salah satu bakteri pathogen yang dapat menyebabkan gastroenteritis, dengan gejala mulai diare ringan sampai hemolytic uremic syndrome, gagal ginjal dan kematian. Bakteri E.Coli ditularkan melalui makanan/ minuman yang tercemar kuman (foodborne disease). Penularan melalui makanan seperti buah-buahan, sayuran yang dimakan segar (tanpa dimasak), susu yang diminum tanpa proses pengolahan, tangan yang tidak bersih kemudian mencemari makanan/ minuman.
E. coli O157:H7 ini memiliki toksin yang disebut dengan shiga (vero) toksin yang terdiri dari shiga toxin 1 dan shiga toxin 2. Penyakit yang biasa ditimbulkan oleh E. coli O157:H7 pada manusia adalah hemorrhagic colitis (HC), hemolytic uremic syndrome (HUS), dan thrombotic thrombocytopenic purpura.
Untuk mencegahnya dilakukan dengan higiene personal, menghindari kontaminasi pada makanan, memasak daging dengan sempurna, masaklah dulu makanan sebelum dimakan sekitar 70-100oC, jangan makan makanan mentah, dan menghindari minum air non-clorinasi, susu yang tidak dipasteurisasi

Saran
Seperti yang telah diuraikan bahwa E.Coli ditularkan melalui makanan/ minuman yang tercemar yang dapat menimbulkan penyakit yang cukup fatal sehingga sebaiknya melakukan pencegahan terhadap penyakit ini dari pada pengobatan.
 ______________________________________________

DAFTAR PUSTAKA

Suardana, IW, Swacita, IBN. 2009. Higiene Makanan, Kajian Teori  dan Prinsip Dasar. Udayana University Press. Bali
Andriani, Escherichia Coli 0157 H:7 sebagai Penyebab Penyakit Zoonosis. Lokakarya Nasional Penyakit Zoonosis.
Wikipedia. Escherichia coli. http://id.wikipedia.org/. 11 Juni 2014
Extention. 2012. E. coli O157:H7. http://www.extension.org/. 11 Juni 2014
Wikipedia. Escherichia coli O157:H7. http://id.wikipedia.org/. 11 Juni 2014
Gansheroff , Lisa J. 2000. Escherichia coli O157:H7 in beef cattle presented for slaughter in the U.S.: Higher prevalence rates than previously estimated. PNAS vol. 97 no. 7 2959-2961
Rahal, Elias A dkk.  2012. Escherichia coli O157:H7—Clinical aspects and novel treatment approaches.. Frontiers in Cellular and Infection Microbiology November 2012 Volume 2
Merdeka. 2013. 5 Cara menghindari infeksi bakteri E-Coli. http://www.merdeka.com/ 11 Juni 2014
BN. 2011. Tips mencegah Infeksi bakteri E.coli. http://biologi-news.blogspot.com/ 11 Juni 2014

26 Mei 2014

Proses pemotongan sapi

RPH Pasanggaran, Bali melakukan proses pemotongan sapi dan babi. Berikut pemotongan sapi:

Proses pemotongan babi

Di RPH Pasanggaran dilakukan pemotonga babi dan pemotongan sapi. Berikut proses pemotongan babi di RPH tersebut:

Profil RPH Pasanggaran

Tanggal 17 Mei kemarin pelaksanaan pratikum dilakukan di RPH Pasanggaran Kota Denpasar yang beralamat di Jl Raya Benoa 133X, Dsn Pedungan, Denpasar selatan (0361) 720979. RPH ini dibangun pada tahun 1983 dan beroperasi pada tahun yang sama. Kapasitas pemotongan sekitar 200 ekor sapi dan 300 ekor babi. Namun yang dipotong tiap harinya 40-45 ekor sapi dan 95-125 ekor babi dari lokal. Secara umum RPH ini sudah mengacu pada PerMenTan No 13/2010 tentang persyaratan teknis RPH Ruminansia dan unit penanganan daging. Dan pengontrolan dari PerDa No.10 tahun 2011.

Subluksasi

BEDAH UMUM VETERINER
Subluksasi

Penyembuhan luka sekunder

BEDAH UMUM VETERINER
Penyembuhan Luka Sekunder

20 Maret 2014

Premedikasi (Gologan tranquilizer)

BEDAH UMUM VETERINER
Premedikasi Tranquilizer

Anestesi umum

Bedah Umum Veteriner
ANESTESI UMUM

Restrain Fisik dan Kimiawi pada Kuda

BEDAH UMUM VETERINER
Restrain Fisik dan Kimiawi pada Kuda


Anggota Kelompok VI :

Irma Rozalina              (1109005041)
Elsa Hidayati              (1109005042)
Elti Febilani                 (1109005047)
Noviriolla Maria          (1109005048)
Siereh Eugene M. L.   (1109005087)
A.A. Trisna Jiwani      (1109005088)
R.R. Chandra Gita      (1109005089)
Made Hermadi P.        (1190005090)
Putu Maha Suta N.     (1109005091)

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2014
______________________________________________

DOWNLOAD
______________________________________________

BAB I
PENDAHULUAN


1.1  Latar Belakang
Restrain adalah menghalangi gerak/aksi dari hewan sehingga dapat menghindari/mengurangi bahaya untuk dokter hewan, asisten maupun hewan itu sendiri. Bahaya tersebut dapat berupa gigitan, sepakan, desakan, dan injakan dari hewan saat akan diperiksa kesehatannya , dilakukan pemeriksaan, pengobatan, dioperasi, maupun dibersihkan. Bahaya atau resiko untuk hewannya sendiri dapat berupa luka benturan karena sepakan yang mengenai dinding kandang yang tajam atau keras seperti paku, potongan kayu dan lain sebagainya yang dapat menyebabkan luka memar atau tergores dan pendarahan sampai patah tulang.
Dalam merestrain harus dilakukan dengan tepat dan menggunakan metode yang benar. kuda merupakan salah satu hewan yang sering ditangani oleh dokter hewan, sehingga harus benar benar dikuasai cara merestrain dan mengcasting baik secara fisik maupun kimiawi. Kuda memiliki tenaga yang kuat, ukuran tubuh yang besar, temperamen, kuat dan cepat. Hal inilah yang membuat setiap orang yang menghandel kuda kesulitan dalam menangani khususnya saat melakukan pemeriksaan sehingga harus benar benar dibutuhkan pengetahuan bagaimana cara melakukan restrain dan casting.

1.2  Rumusan Masalah
1.      Bagaimana cara restrain kuda?
2.      Bagaimana cara casting kuda?

1.3  Tujuan
Untuk mengetahui bagaimana cara restrain dan casting kuda dengan baik dan benar. 
______________________________________________


BAB II
PEMBAHASAN


2.1  Restrain Kuda
Kuda, jika mungkin, harus didekati dari sisi kiri mereka. Biasanya akan lebih mudah untuk bekerja dari sisi itu. Tempat terbaik untuk bekerja adalah dekat bahu, sedikit ke sisi-namun tidak langsung di depan. Umumnya, handler dan pemeriksa harus berada di sisi yang sama dari kuda bila memungkinkan.
Ada tiga kategori utama dari restrain: fisik, verbal dan kimia- dapat digunakan sendiri atau bersama-sama. Dalam melakukan restrain haruslah tenang, percaya pada kemampuan, tidak ragi-ragu, waspada, dan tidak sembarangan. Sebelum bertindak haruslah merencanakan metodenya serta menyiapkan peralatannya.
a.       Restrain Fisik
Ada beberapa cara melakukan restrain fisik pada kuda yaitu :
·         Mengangkat salah satu kaki kuda
Dengan mengangkat salah satu kaki kuda umumnya dilakukan pada kaki depan kuda akan kehilangan keseimbangan apabila mau menendang, karena kuda menendang dengan kedua kaki belakang secara bersamaan. Cara ini sering dilakukan untuk tujuan pemeriksaan ataupun dalam melakukan pengobatan.
Mengangkat salah satu kaki kuda
·         Metode haltering (menggunakan halter)
Metode ini dengan menggunakan halter (pakaian kuda) atau dapat juga dengan menggunakan tali yang diikatkan dibelakang telinga lalu dimasukkan kedalam mulut dan kemudian ditarik kedepan.

Metode haltering
·         Metode paksaan
Metode paksaan

Metode ini dilakukan untuk mengalihkan perhatian kuda, dapat dilakukan dengan menutup matanya dengan menggunakan kain/handuk atau dengan menggunakan alat (pram/twitch). Pram dipasang pada bibir atas lalu diputar sedemikian ruoa sehingga timbul rasa sakit untuk mengalihkan perhatian kuda. Metode ini dilakukan terutama pada kuda-kuda yang memiliki temperamen yang tinggi apabila dengan cara yang pertama dan kedua sulit dilakukan untuk menguasai hewan.


b.      Restrain Verbal
Berbicara dengan kuda memiliki pengaruh besar. Berbicara dengan nada yang menenangkan dan menyakinkan akan lebih baik dibandingkan dengan nada yang keras dan kasar. 
c.          Restrain Chemical
Chemical restrain adalah pengendalian hewan dengan bahan-bahan kimia. Bahan kimia yang dapat digunakan antara lain yaitu acepromazine maleat dan xylazine hidroklorida yang dianggap sebagai obat penenang paling berguna dalam restrain kuda. (Dodman NH, Equine Vet J. 1980)
  
2.2              Casting Kuda
Casting adalah menguasai hewan dengan cara merebahkan hewan tersebut.
Syarat-ayarat melakukan casting adalah:
1.      Berhati-hati, jangan sampai melukai kuda
2.      Tempat cukup lapang, rata, empuk, dan jauh dari pepohonan, tembok, batu/benda lain yang membahayakan. Alas dibuat dari jerami kering/rumputyang kering, usahakan di tempat yang teduh.
3.      Tali yang digunakan cukup besar dan panjang
4.      Sediakan tenaga manusia 4-5 orang, satu untuk mengarahkan jatuhnya kuda, sedangkan yang lain sebagai penarik tali
5.      Setelah kuda rebah, cepat dikuasai agar tidak berusaha berdiri kembali
6.      Pada kuda bunting sebaiknya jangan dilakukan
      Casting pada kuda umumnya dilakukan untuk tujuan terapi (surgical therapy) dapat dilakukan dengan :
·         Hoble/Kluister
Hoble
Hoble berupa tali tambang yang dipasang pada salah satu kaki belakang kemudian dihubungkan ke leher dan satu ujungnya masuk ke dalam tali yang ada di leher dan ditarik ke belakang dan kuda akan jatuh pada bagian yang ada talinya lalu dilakukan pengikatan pada kaki.    
·         Metode Harness
Cara ini dengan menggunakan semacam sabuk dari kulit dengan talinya. Alat ini dipasang melingkar pada dada dan kedua kaki belakang dihubungkan dengan ring yang ada dan kedua ujung tali ditarik ke belakang dan kuda akan terjatuh lalu dilakukan pengikatan pada kaki. Dari kedua metode diatas metode Harness lebih sering digunakan karena lebih aman dan mudah dilakukan.

Metode harness
______________________________________________

BAB III
PENUTUP


3.1 Kesimpulan
Dalam melakukan pemeriksaan, pengobatan, bahkan operasi pada hewan khususnya kuda akan sangat sulit dilakukan apa bila hewan tersebut terus bergerak dan tidak terkendali. Dokter hewan yang menangani bisa saja tergigit bahkan terinjak. Untuk menghindari hal itu maka ada teknik yang disebut dengan restrain dan casting. Restrain maupun casting adalah teknik yang dilakukan untuk menghalangi gerak/aksi dari hewan.
Restrain pada kuda dapat dibagi menjadi tiga kategori, yang pertama yaitu restrain fisik yang terdiri dari mengangkat salah satu kaki kuda, metode haltering, dan metode paksaan. Yang kedua restrain verbal dan yang ketiga yaitu restrain chemical.
Casting pada kuda umumnya dilakukan untuk tujuan terapi dapat dilakukan dengan hobble/kluister dan metode harness.


______________________________________________

DAFTAR PUSTAKA

Dodman NH. Chemical restraint in the horse. Equine Vet J. 1980 Oct;12(4):166-70.
Keith Javic - Class of 2003, C. Nikki Conroy - Class of 2003. EQUINE RESTRAINT. http://cal.vet.upenn.edu/projects/fieldservice/Equine/eqrestr/eqrestr.htm (diakses 28 februari 2014)
Smith Robyn Dr. 2007. STANDARD OPERATING PROCEDURE (Restraint of Horses)
Wardhita, et. al. 2008. ILMU BEDAH UMUM VETERINER I. laboratorium bedah veteriner. Denpasar  (diakses 28 februari2014)


You migh also like:

Resent post


Recent Posts Widget